Dongo Dhano
Edisi: 2
Mendengar pernyataanku untuk beri dulu waktu untuk berpikir, Mateus tidak berkecil hati. "Oh...tidak apa-apa weta, santai saja! Silakan dijawab iya kalau punya perasaan tapi kalau tidak memiliki perasaan santai saja" pungkas Mateus.
Malam itu, aku mencari tahu tentang Mateus dan kebetulan aku masih simpan no kontak teman yang sama-sama dalam organda HIMABO. Karena aku tahu dia merupakan teman dekat Mateus. Pernyataan yang temannya berikan padaku membuatku menjadi tidak sabar untuk hari segera esok.
Keesokan harinya aku yang chat Mateus duluan, memberitahukan jawaban dari pertanyaan Mateus. Oh iya, aku hampir lupa ternyata yang teman-teman lain cerita tentang Mateus playboi itu tidak benar mereka menyimpulkan hanya dari penglihatan tanpa harus mendekati secara langsung. Padahal Mateus sangat banyak membantu teman-teman Mahasiswa dalam hal materi dan pengetahuan kampus yang ia miliki.
Mateus sangat senang ketika aku menjawab "iya nara saya juga suka dengan kita" kini hubungan kami sudah resmi berstatus pacaran. "Tidak ada lagi sapaan nara dan weta melainkan sayang," ungkap Mateus dalam chating.
Mateus tinggal di Perintis Kemerdekaan padahal tempat ia tinggal dan lokasi kampus dia kuliah lumayan jauh, seperti Marapokot-Danga.
Mateus salah seorang Mahasiswa yang kuliah sambil kerja, dan sangat mandiri bisa membiayai sendiri kuliah dan kos nya sejak semester satu, dia berasal dari keluarga pas-pasan.
Mateus adalah satu-satunya orang dalam keluarga mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Itulah yang membuat cintaku pada Mateus bertambah besar. Tak jarang dia sering memberi aku kejutan-kejutan dan dia sangat romantis.
Meskipun sesibuk apapun Mateus selalu chat aku, meski hanya menanyakan kabar lewat online.
Dia baik, sopan dan beda dengan mantan-mantan cowok ku yang sebelumnya. Mateus sangat respect sama aku. Waktu terus berlalu, kini tibalah waktu kami di wisuda, Mateus berjanji bahwa dia akan melamar aku setelah selesai kuliah.
Janjinya pun iya tepati 4 bulan setelah wisuda, Mateus pulang ke Maunori sementara aku pulang ke Bajawa. Kini Mateus sudah mengajar di salah satu SMP yang ada di Maunori sedangkan aku masih belum mendapatkan pekerjaan.
Diwaktu libur tak jarang Mateus mengunjungi aku, meskipun jarak antara Maunori dan kampunku lumayan jauh.
Respon ibuku cukup baik namun ada signal yang kurang baik dari bapak, suatu saat aku menanyakan perihal penilaian bapak kepada Mateus.
Bapak hanya mengatakan "iya dia baik, sopan namun bapak perlu mengetahui latar belakang keluarganya," berbagai cara dan jurus telah aku coba untuk meluluhkan hati bapak kepada anak mantunya Mateus.
Waktu terus berlalu hari itu tiba-tiba ponselku berdering setelah aku melihat ternyata telepon dari Mateus. Setelah berbicara cukup lama, Mateus mengutarakan niatnya akan mengunjungi keluargaku bersama keluarganya sebagai tahap perkenalan.
Aku sangat senang mendengarnya karena kakanda ku yang aku tunggu dan aku puja selama ini hendak melamar aku. Segera ku sampaikan hal tersebut kepada bapak dan ibuku, ibu sangat senang, waktu terasa sangat cepat berlalu.
Kini tibalah saatnya Mateus dan keluarganya datang untuk bertemu keluargaku. Karena aku aku tidak terlalu memahami proses perkawinan dalam adat dan budaya Bajawa, aku hanya tahu kalau malam itu mereka langsung pulang ke Maunori, dan janjinya minggu depan Mateus dan keluarganya akan kembali ke rumah.
Seminggu di Maunori serasa setahun Mateus tidak menghubungi aku lagi. Nomor ponselnya pun selalu tidak aktif ketika aku hubungi.
Aku sangat khawatir dan kangen dengan Mateus, sampai pada hari jumat Mateus menelponku dari Maunori. Dia juga menjelaskan prihal ponselnya yang jarang aktif karena ia terlalu sibuk. Sibuk sebagai guru lalu sibuk ke kebun juga. Akupun langsung menjawab "iya ame tidak apa-apa, saya paham itu tapi kenapa biar sms juga tidak atau WhatsApp?" sahutku dengan nada tinggi.
Mateuspun menjelaskan "aduh ine ja'o ew di kampung jaringan hilang muncul apalagi di kebun, jaringan telkomsel hanya 2 kotak kadang juga hilang sama sekali," sahut Mateus di ujung telephone.
Keesokan harinya pukul 18:00 WITA Mateus dan keluarganya tiba di rumah, aku sangat senang apalagi bisa melihat wajah tampan Mateus.
Kali ini mereka membawa dengan kain adat, yang dipegang oleh Mateus.
Aku tidak mengetahui acara adat merasa biasa-biasa saja, namun ada pesan dari raut wajah Mateus yang bisa aku baca, Mateus sempat beberapa kali menundukan kepala.
Dan pada waktu itu aku lebih memilih untuk berdiam diri dalam kamar, mendengarkan percakapan mereka. Yang aku sempat dengar, bapaku dengan suara keras "Riani harus kena sangsi karena dia sudah mendahului kakaknya. Itu yang aku dengar di penghujung malam itu.
Setelah berdebat cukup lama, kini tibalah saatnya Mateus dan keluarganyapun hendak kembali ke Maunori. Air mataku pun sudah membasahi boneka Doraemon, aku tahu yang mereka perdebatkan tadi adalah soal sangsi, dimana perkawinan dalam adat dan budaya Bajawa seorang adik tidak boleh mendahului atau melangkahi kakaknya dalam hal perkawinan. Dan, apabila tetap dilakukan sang adik harus memberikan sesuatu kepada sang kakak.
Sepuluh menit berselang aku dengar Vixion nya Mateus meraung, diikuti oleh beberapa sepeda motor lainnya.
Aku masih bingung dengan semua ini, hanya air mata yang semakin bertambah di malam yang semakin larut. Hanya dinding kamar dan jam dinding yang mengetahui yang aku alami malam itu.
Sampai pagi aku tidak bisa tidur memikirkan Mateus dan kejadian itu. Sementara Mateus ponselnya selalu diluar jangkauan ketika aku calling.....
(Lantas seperti apa kelanjutan kisahnya? apakah percintaan Mateus dan Riana akan dilanjutkan ke tahap adat yang berikutnya? ataukah mereka menunggu sampai kakak Riana memiliki jodoh yang tepat? Semoga saja ada kelanjutan ceritanya......)
Penulis adalah penikmat kopi dan pecinta sajak.
![]() |
Cerpen karya Cris Jata |
Edisi: 2
Mendengar pernyataanku untuk beri dulu waktu untuk berpikir, Mateus tidak berkecil hati. "Oh...tidak apa-apa weta, santai saja! Silakan dijawab iya kalau punya perasaan tapi kalau tidak memiliki perasaan santai saja" pungkas Mateus.
Malam itu, aku mencari tahu tentang Mateus dan kebetulan aku masih simpan no kontak teman yang sama-sama dalam organda HIMABO. Karena aku tahu dia merupakan teman dekat Mateus. Pernyataan yang temannya berikan padaku membuatku menjadi tidak sabar untuk hari segera esok.
Keesokan harinya aku yang chat Mateus duluan, memberitahukan jawaban dari pertanyaan Mateus. Oh iya, aku hampir lupa ternyata yang teman-teman lain cerita tentang Mateus playboi itu tidak benar mereka menyimpulkan hanya dari penglihatan tanpa harus mendekati secara langsung. Padahal Mateus sangat banyak membantu teman-teman Mahasiswa dalam hal materi dan pengetahuan kampus yang ia miliki.
Mateus sangat senang ketika aku menjawab "iya nara saya juga suka dengan kita" kini hubungan kami sudah resmi berstatus pacaran. "Tidak ada lagi sapaan nara dan weta melainkan sayang," ungkap Mateus dalam chating.
Mateus tinggal di Perintis Kemerdekaan padahal tempat ia tinggal dan lokasi kampus dia kuliah lumayan jauh, seperti Marapokot-Danga.
Mateus salah seorang Mahasiswa yang kuliah sambil kerja, dan sangat mandiri bisa membiayai sendiri kuliah dan kos nya sejak semester satu, dia berasal dari keluarga pas-pasan.
Mateus adalah satu-satunya orang dalam keluarga mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Itulah yang membuat cintaku pada Mateus bertambah besar. Tak jarang dia sering memberi aku kejutan-kejutan dan dia sangat romantis.
Meskipun sesibuk apapun Mateus selalu chat aku, meski hanya menanyakan kabar lewat online.
Dia baik, sopan dan beda dengan mantan-mantan cowok ku yang sebelumnya. Mateus sangat respect sama aku. Waktu terus berlalu, kini tibalah waktu kami di wisuda, Mateus berjanji bahwa dia akan melamar aku setelah selesai kuliah.
Janjinya pun iya tepati 4 bulan setelah wisuda, Mateus pulang ke Maunori sementara aku pulang ke Bajawa. Kini Mateus sudah mengajar di salah satu SMP yang ada di Maunori sedangkan aku masih belum mendapatkan pekerjaan.
Diwaktu libur tak jarang Mateus mengunjungi aku, meskipun jarak antara Maunori dan kampunku lumayan jauh.
Respon ibuku cukup baik namun ada signal yang kurang baik dari bapak, suatu saat aku menanyakan perihal penilaian bapak kepada Mateus.
Bapak hanya mengatakan "iya dia baik, sopan namun bapak perlu mengetahui latar belakang keluarganya," berbagai cara dan jurus telah aku coba untuk meluluhkan hati bapak kepada anak mantunya Mateus.
Waktu terus berlalu hari itu tiba-tiba ponselku berdering setelah aku melihat ternyata telepon dari Mateus. Setelah berbicara cukup lama, Mateus mengutarakan niatnya akan mengunjungi keluargaku bersama keluarganya sebagai tahap perkenalan.
Aku sangat senang mendengarnya karena kakanda ku yang aku tunggu dan aku puja selama ini hendak melamar aku. Segera ku sampaikan hal tersebut kepada bapak dan ibuku, ibu sangat senang, waktu terasa sangat cepat berlalu.
Kini tibalah saatnya Mateus dan keluarganya datang untuk bertemu keluargaku. Karena aku aku tidak terlalu memahami proses perkawinan dalam adat dan budaya Bajawa, aku hanya tahu kalau malam itu mereka langsung pulang ke Maunori, dan janjinya minggu depan Mateus dan keluarganya akan kembali ke rumah.
Seminggu di Maunori serasa setahun Mateus tidak menghubungi aku lagi. Nomor ponselnya pun selalu tidak aktif ketika aku hubungi.
Aku sangat khawatir dan kangen dengan Mateus, sampai pada hari jumat Mateus menelponku dari Maunori. Dia juga menjelaskan prihal ponselnya yang jarang aktif karena ia terlalu sibuk. Sibuk sebagai guru lalu sibuk ke kebun juga. Akupun langsung menjawab "iya ame tidak apa-apa, saya paham itu tapi kenapa biar sms juga tidak atau WhatsApp?" sahutku dengan nada tinggi.
Mateuspun menjelaskan "aduh ine ja'o ew di kampung jaringan hilang muncul apalagi di kebun, jaringan telkomsel hanya 2 kotak kadang juga hilang sama sekali," sahut Mateus di ujung telephone.
Keesokan harinya pukul 18:00 WITA Mateus dan keluarganya tiba di rumah, aku sangat senang apalagi bisa melihat wajah tampan Mateus.
Kali ini mereka membawa dengan kain adat, yang dipegang oleh Mateus.
Aku tidak mengetahui acara adat merasa biasa-biasa saja, namun ada pesan dari raut wajah Mateus yang bisa aku baca, Mateus sempat beberapa kali menundukan kepala.
Dan pada waktu itu aku lebih memilih untuk berdiam diri dalam kamar, mendengarkan percakapan mereka. Yang aku sempat dengar, bapaku dengan suara keras "Riani harus kena sangsi karena dia sudah mendahului kakaknya. Itu yang aku dengar di penghujung malam itu.
Setelah berdebat cukup lama, kini tibalah saatnya Mateus dan keluarganyapun hendak kembali ke Maunori. Air mataku pun sudah membasahi boneka Doraemon, aku tahu yang mereka perdebatkan tadi adalah soal sangsi, dimana perkawinan dalam adat dan budaya Bajawa seorang adik tidak boleh mendahului atau melangkahi kakaknya dalam hal perkawinan. Dan, apabila tetap dilakukan sang adik harus memberikan sesuatu kepada sang kakak.
Sepuluh menit berselang aku dengar Vixion nya Mateus meraung, diikuti oleh beberapa sepeda motor lainnya.
Aku masih bingung dengan semua ini, hanya air mata yang semakin bertambah di malam yang semakin larut. Hanya dinding kamar dan jam dinding yang mengetahui yang aku alami malam itu.
Sampai pagi aku tidak bisa tidur memikirkan Mateus dan kejadian itu. Sementara Mateus ponselnya selalu diluar jangkauan ketika aku calling.....
(Lantas seperti apa kelanjutan kisahnya? apakah percintaan Mateus dan Riana akan dilanjutkan ke tahap adat yang berikutnya? ataukah mereka menunggu sampai kakak Riana memiliki jodoh yang tepat? Semoga saja ada kelanjutan ceritanya......)
Penulis adalah penikmat kopi dan pecinta sajak.

Komentar
Posting Komentar
Matapenakreatif.blogspot.com