Gadis itu hadir dengan wajah garang. Membenarkan argumentasinya lewat komentar sederhana pada sebuah status facebook. Katanya" Aku tidak sepaham jika abang menyatakan perempuan itu konsumenrivtif, buktinya aku perempuan, tapi tidak terlalu berlebihan yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi, lanjut dia.
Aku pun penasaran, dengan kehadiran gadis itu lewat komentar.Dengan antosias aku mencari tahu kronologi gadis itu. Rasa terpikat itu ada, pada saat sorot mataku yang tertuju pada sebuah foto milik gadis itu.
Argumentasi dan pembenaranku sedikit aku tenggelamkan, dan mencobah meredahkan amarahnya, kala itu.
Semoga ia tidak mengetahui langkahku yang diam-diam mulai menyukainya. "Status ini kan menurut persepsi saya pribadi, jika ade menolak, berarti pandangan kita berbeda, dan itu sebuah hal yang wajar, ungkapku. Gadis itu pun tidak mau kalah, hingga pada akhirnya aku mengalah, dan mencoba lebih universal mengambil sebuah refrensi lagi.
Boleh tau nama ade siapa,"sapaku lewat messenger." Tak ku duga, ia pun spontan membalasnya. Angella abang,"jawabnya. "Maaf Bang, jika lewat komentar tadi terlalu berlebihan, lanjut dia," Tidak apa-apa dek, sesuatu hal yang menurut kita benar, harus di pertahankan, kata ku.
Karena banyak kesibukan baik dalam dunia kerja maupun akademis, sehingga ada jeda antara kami. Tepat pada tanggal 21 Desember 2017, pagi itu, aku kembali menyapanya; Mat pagi Angella, apa kabar? Kami pun terlarut dalam perbincangan, hingga pada akhirnya no wa nya pun aku minta. Dengan maksud lebih intens mendekatinya. Ia pun mengamininya, bahwa nanti ia kirimkan. Perkenalan kami pun semakin dekat. Antara aku dan dia semakin membuka diri. Yang aku suka darinya ia cukup Smart dan ber intelektual.
Tanpa basa basi aku langsung menyapanya sore itu via WA. Ia menyambutnya dengan penuh kehangatan. Kami cukup terlarut dalam nuansa pendekatan. Sore itu langit teduh, senja mulai mendekati malam. Suara jengkrik seakan meniduri malam yang sunyi. Aku yang sejak sore tadi masih menikmati secangkir kopi hitam, dengan penuh kenikmatan.
"Angella, aku mencintaimu. Apakah kamu mau jadi pacarku? Dengan penuh keberanian aku ungkapkan itu.
What? jawabnya singkat. Aku malas pacaran lanjut dia. Langkahku seakan kaku seketika. Ku teguk berlahan kopi hingga tak sadar sampai ampasnya. Aku utarakan kesungguhan hati dan niat ku bahwasannya aku tulus menyukainya dari hati.
Sedikit kecewa waktu itu, kami diam seketika, antara aku dan dia seperti kehabisan kata-kata dan membisu. Tapi abang beneran serius kan, suka sama Angella, ungkapnya lagi. Balasannya itu memecahkan suasana bisu dan hening kala itu. Benaran serius, ungkapku meyakinkan. Jika memang demikian kita jalani saja dulu abang, sebenarnya aku juga sudah suka sama abang, waktu mengomentari status facebooknya abang, tutupnya. Sejak sore itu aku dan Angella sama-sama melangkah maju dalam satu Bandera objektif. Bahasanya aku dan dia adalah kami yang sama-sama bernaung di bawah Bandera kasih dan sayang. Perjalanan cinta yang kami jalani cukup di bilang romantis, meski sekat jarak dan dinding waktu sebagai tembok pemisah, kami tetap slow. Hingga sampai pada Desember 2018 kemarin, aku menyelesaikan gelar sarjana S1 ku di salah satu Universitas di kota Surabaya. "Suatu kebanggaan tersendiri ketika mendengar kata-kata Angella bahwa kesuksesan itu bukan milik orang-orang hebat tetapi milik siapa saja ketika ia mau berjuang, ini kesan Angella pada hari wisuda kala itu. Dan ia pun berpesan, hendaklah belajar seperti ilmu padi, untuk itu jadikanlah hari ini sebagai awal sebuah perjuangan untuk mengaktualisasikan segala ilmu akademis di dalam kehidupan bermasyarakat, tutupnya."
Kebahagiaan pun masih mewarnai hubungan kami hingga sampai hari ini, meski kini Angella masih menempuh gelar sarjananya di sebuah universitas di kota Malang.
Sebagai seorang lelaki, saya cukup bangga memiliki kekasih seperti Angella. Meskipun jalinan cinta kami terpisah oleh sekat jarak, dan dinding waktu kami tetap saling menjaga kesetiaan dan berharap pada akhirnya bisa happy ending.
Aku pun penasaran, dengan kehadiran gadis itu lewat komentar.Dengan antosias aku mencari tahu kronologi gadis itu. Rasa terpikat itu ada, pada saat sorot mataku yang tertuju pada sebuah foto milik gadis itu.
Argumentasi dan pembenaranku sedikit aku tenggelamkan, dan mencobah meredahkan amarahnya, kala itu.
Semoga ia tidak mengetahui langkahku yang diam-diam mulai menyukainya. "Status ini kan menurut persepsi saya pribadi, jika ade menolak, berarti pandangan kita berbeda, dan itu sebuah hal yang wajar, ungkapku. Gadis itu pun tidak mau kalah, hingga pada akhirnya aku mengalah, dan mencoba lebih universal mengambil sebuah refrensi lagi.
Boleh tau nama ade siapa,"sapaku lewat messenger." Tak ku duga, ia pun spontan membalasnya. Angella abang,"jawabnya. "Maaf Bang, jika lewat komentar tadi terlalu berlebihan, lanjut dia," Tidak apa-apa dek, sesuatu hal yang menurut kita benar, harus di pertahankan, kata ku.
Karena banyak kesibukan baik dalam dunia kerja maupun akademis, sehingga ada jeda antara kami. Tepat pada tanggal 21 Desember 2017, pagi itu, aku kembali menyapanya; Mat pagi Angella, apa kabar? Kami pun terlarut dalam perbincangan, hingga pada akhirnya no wa nya pun aku minta. Dengan maksud lebih intens mendekatinya. Ia pun mengamininya, bahwa nanti ia kirimkan. Perkenalan kami pun semakin dekat. Antara aku dan dia semakin membuka diri. Yang aku suka darinya ia cukup Smart dan ber intelektual.
Tanpa basa basi aku langsung menyapanya sore itu via WA. Ia menyambutnya dengan penuh kehangatan. Kami cukup terlarut dalam nuansa pendekatan. Sore itu langit teduh, senja mulai mendekati malam. Suara jengkrik seakan meniduri malam yang sunyi. Aku yang sejak sore tadi masih menikmati secangkir kopi hitam, dengan penuh kenikmatan.
"Angella, aku mencintaimu. Apakah kamu mau jadi pacarku? Dengan penuh keberanian aku ungkapkan itu.
What? jawabnya singkat. Aku malas pacaran lanjut dia. Langkahku seakan kaku seketika. Ku teguk berlahan kopi hingga tak sadar sampai ampasnya. Aku utarakan kesungguhan hati dan niat ku bahwasannya aku tulus menyukainya dari hati.
Sedikit kecewa waktu itu, kami diam seketika, antara aku dan dia seperti kehabisan kata-kata dan membisu. Tapi abang beneran serius kan, suka sama Angella, ungkapnya lagi. Balasannya itu memecahkan suasana bisu dan hening kala itu. Benaran serius, ungkapku meyakinkan. Jika memang demikian kita jalani saja dulu abang, sebenarnya aku juga sudah suka sama abang, waktu mengomentari status facebooknya abang, tutupnya. Sejak sore itu aku dan Angella sama-sama melangkah maju dalam satu Bandera objektif. Bahasanya aku dan dia adalah kami yang sama-sama bernaung di bawah Bandera kasih dan sayang. Perjalanan cinta yang kami jalani cukup di bilang romantis, meski sekat jarak dan dinding waktu sebagai tembok pemisah, kami tetap slow. Hingga sampai pada Desember 2018 kemarin, aku menyelesaikan gelar sarjana S1 ku di salah satu Universitas di kota Surabaya. "Suatu kebanggaan tersendiri ketika mendengar kata-kata Angella bahwa kesuksesan itu bukan milik orang-orang hebat tetapi milik siapa saja ketika ia mau berjuang, ini kesan Angella pada hari wisuda kala itu. Dan ia pun berpesan, hendaklah belajar seperti ilmu padi, untuk itu jadikanlah hari ini sebagai awal sebuah perjuangan untuk mengaktualisasikan segala ilmu akademis di dalam kehidupan bermasyarakat, tutupnya."
Kebahagiaan pun masih mewarnai hubungan kami hingga sampai hari ini, meski kini Angella masih menempuh gelar sarjananya di sebuah universitas di kota Malang.
Sebagai seorang lelaki, saya cukup bangga memiliki kekasih seperti Angella. Meskipun jalinan cinta kami terpisah oleh sekat jarak, dan dinding waktu kami tetap saling menjaga kesetiaan dan berharap pada akhirnya bisa happy ending.

Komentar
Posting Komentar
Matapenakreatif.blogspot.com