google-site-verification=6k49O0Boc1drQA3bg2BRCdbC2KqMDgoCWPBGhc7X_lM ~ Mata Pena Kreatif
Langsung ke konten utama
Nyong Hitam Manis





Cerpen karya Cris Jata


Dunia terasa gelap dan cakrawala tak lagi seindah dulu. Denyut nadi terasa berhenti semenjak kau pergi dari sisiku.

"Kita hidup bukan dari cinta saja, jadi kalau kita dipertemukan dan tidak untuk hidup bersama tak perlu kecewa  karena kita di pertemukan sekedar saling mengenal"

Pukul satu siang.
Hujan turun deras di luar. Suara petir terdengar susul menyusul, angin kencang berkesiur. Udara terasa lembap dan dingin.

Semua kursi yang berjejer didepan klinik tempat aku bekerja, di padati orang-orang yang berteduh karena hujan.

Beberapa orang lainnya sedang berlari-lari hendak mencari tempat untuk menepih dan berteduh sejenak.

Di antara keramaian orang-orang itu, dua orang muda mudi yang ceweknya seumuran denganku mereka berteduh juga di klinik paling pojok.

Cowoknya mengebas-ngebas jacket dan celana, berusaha mengeringkannya akibat terkena hujan. Lalu membuka jacketnya dan membaluti tubuh gadis itu. Ku lihat bibir gadis itu bergetaran gigil karena sekujur tubuhnya basah kuyup.

Entah dari mana datangnya, dan siapa yang meminta untuk hadir disiang itu, ataukah aku yang terlalu baper dengan kedua orang itu.

Tiba-tiba dalam kontak ingatku terngiang wajah Andre. Aku berusaha menepis bayangan itu, tapi apalahdaya tenaga dan kekuatan seorang perempuan, akan luluh juga oleh rasa rindu di tambah lagi dingin yang menghujat membuat hati dan tubuh ini semakin gigil.

Aku masih ingat disaat hujan deras seperti ini. Waktu itu kalau tidak salah, hari Minggu ketika pulang misa di Gereja. Aku dan Andre satu payung, tangan kiri Andre yang memegang payung dan tangan kanannya merangkul aku, agar tidak bergerak terlalu keluar dari payung. Pohon asam yang berjejer di pinggir jalan itu, seakan cemburu melihat Andre dan aku begitu romantis di siang itu.

Andre adalah pangeran yang pernah hadir di hidup aku dalam beberapa tahun lalu. Andre sangat baik ramah, sopan dan tidak sombong.

Kadang Andre juga nyebalin, tapi buat aku kangen setengah mati. Wajahnya yang tampan, dan senyumnya yang menawan membuat aku suka padanya.

Aku dan Andre pacaran sejak masuk kelas satu SMA. Dulunya kami pernah satu SMP di Stellamaris Marapokot, kala itu belum ada benih-benih cinta tumbuh di antara kami.

Pantai Nangadhero menjadi saksi diwaktu Andre mengutarakan perasaan cintanya kepadaku. Aku tidak menyangka hal itu terjadi diantara kami, apalagi aku dan Andre sama-sama dari Marapokot.

Aku tidak menatap wajah Andre kala itu, aku hanya menunduk melihat ibu jari kaki yang bergerak di atas butiran-butiran pasir.

"Bhida emba?" tanya Andre memecahkan suasana. "Ow...oow, kita jalani dulu to ngara cocok kita rua lanjut," ungkapku.

Wajah Andre berseri-seri mendengar pernyataanku itu, lalu melepas tangannya dari genggamanku ia teriak namaku dan kata i love you begitu besar. Laut seakan ikut kegirangan bersama-sama dengan hati Andre waktu itu.

Awal masuk SMA, awal cinta aku dan Andre di mulai. Nihilnya, Andre memilih SMA Stellamaris, sedangkan aku SMK Balleriwu Danga sebagai tempat melanjutkan pendidikanku.

Andre sangat mandiri dan dia orangnya sangat rapih. Ia memilih SMA Stellamaris karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya, dan katanya kalau pulang sekolah dia bisa cepat-cepat ke kebun untuk bantu bapak dan ibunya.

Terkadang uang sekolahnya ia sendiri yang membayar dari uang hasil SK (bekerja di kebun orang) nya sendiri.

Andre sangat dewasa dan pekerja keras, sehingga rasa cinta dan sayangku kepadanya bertambah besar.

Yang aku suka dari Andre atau bikin-bikin cewek-cewek lain meleleh kayak aku ini, ialah senyumannya dan cara  berpakayannya yang begitu bersih dan rapi.

Suatu ketika, aku mendengar kabar dari salah seorang temanku yang sama-sama satu sekolah sama Andre hanya beda jurusan. Katanya " Andre disini ada pacar, satu kelas sama saya namanya Dortin".

Aku sedikit kecewa sih pertamanya, tapi sebelumnya Andre sudah terlebih dahulu memberitahu aku.

Andre berbeda dengan mantan-mantan cowokku yang dulu. Setiap kali ada cewe lain yang dia suka dan naksir, pasti terlebih dahulu memberitahu aku.

Kalau dihitung-hitung, mungkin semua cewek di SMA Stellamaris sudah ia pacarin semua. Karena sudah banyak kali ia mengijinkannya ke aku.

Andre dikatakan cowok pintar dan cukup cerdas dari jurusan Bahasa. Kerap kali ada pelatihan dan kegiatan PLAN Indonesia, Andre menjadi delegasi dari SMA Stellamaris. Mungkin, ini yang bikin banyak cewek meliriknya.

Meskipun diantara banyak pacar-pacarnya, Andre tidak pernah lupa kapan hari dan waktu aku ulang tahun tak jarang kejutan-kejutan indah ia berikan buat aku.

Aku pernah menceritakan tentang hubungan aku dan Andre kepada ibu dan respon ibu sangat marah, bahwasannya kami berdua masih terjalin hubungan darah. Aku menjelaskan kepada ibu, akhirnya ibu pun mengerti, dan memintaku untuk sesegera mungkin mengakhiri hubungan aku dan Andre, sebelum sampai terdengar ke telinga bapak.

Andre yang menanggapinya dengan begitu berat hati "bhida emba ro, ja'o sayang ngeri ne kau," ucap Andre malam itu waktu do'a malam wajib di rumah om Nimus.

Tanpa mendengar kata bapak ibu, dan orang-orang kami tetap menjalani hubungan kami.

Kini Andre jarang ke rumah, tapi orang tua kami tetap akrab seperti tetangga lainnya. Mungkin mereka berpikir, apa yang anak-anak mereka lakuin mereka enggan untuk mencampurinya, selama itu tidak merugikan pihak manapun.

Waktu berlalu begitu cepat, kini Aku dan Andre tamat SMA. Andre melanjutkan perguruan tingginya di UNIFLOR Ende, sedangkan aku memilih Makassar sebagai tempat menuntut ilmuku.

Andre mengambil jurusan Sastra Indonesia dan aku memilih ambil Perawat di kampus Sandikarsa Makassar.

Meskipun terpisah oleh laut, sapaan manja tak pernah padam dan terus membara dalam hubungan aku dan Andre.

Setiap libur semester, kami sering bertemu ketika aku pulang ke Flores. Tak jarang, Ngaba tata, Manu Lalu, Wolo bobo menjadi tempat kami bercengkarama sebagai pengobat rindu.

Hubungan aku dan Andre semakin romantis, saking romantisnya kini di ketahui oleh semua keluarga kami masing-masing.

Kini aku semakin terancam. Satu sisi aku mempertahankan hubungan aku dan Andre, sisi lain aku tidak ingin bapak sama ibu kecewa dan semua keluarga besarku ikut kecewa. Masih tentang faktor hubungan keluarga yang menjadi penghalang cinta kami.

Pada Juni 2018 kemarin, aku kembali dihantam oleh situasi kalut yang membuat separuh hati dan jiwaku ikut pergi bersama takdir yang memisahkan kami.

Aku mendapat kabar tentang Andre, bahwa ia sekarang bukan lagi milikku, melainkan milik gadis lain yang saat ini sudah berada bersama-sama dengan dia di rumahnya.

Aku kubur jauh-jauh rasa kecewaku waktu itu. Pondok Madina samping kampus STMIK Makassar menjadi saksi bisu atas kesedihanku.

Kurangkul rasa sakit hati itu, dalam sebuah keniscayaan "kita hidup bukan dari cinta saja".

Waktu itu aku masih semester IV, dengan segala optimisme dan semangat juang yang begitu tinggi akhirnya aku selesai juga merebut gelar keperawatanku di Kampus Sandikarsa.

Dan puji Tuhan yang tak terhingga, aku sekarang sudah bekerja di sebuah klinik dan tempatku bukan lagi di Makassar melainkan di Jogjakarta ***







Penulis memiliki hobi traveling, penikmat kopi, dan pecinta sajak.









Komentar