![]() |
Oleh Cris Jata |
Perempuan harus menjadi Srikandi
Menikah merupakan salah satu hal yang pasti dilakukan oleh setiap orang awam. Karena menikah merupakan salah satu cara mempertahankan populasi dan keturunan. Tapi menjadi sebuah rumah tangga yang harmonis, tidak semudah membalik telapak tangan.
Perubahan besar dalam hidup bisa sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya yang ada dalam keluarga.
Nasihat orangtua bisa membentuk pribadi kita dalam kehidupan berumah tangga di masa depan. Kesuksesan yang kita peroleh sekarang ini pun bisa terealisasi karena pelajaran dan investasi kebaikan yang di tanamkan sejak kecil.
Seperti kisah seorang ibu yang begitu tangguh dan pekerja keras. Tangguh yang saya maksudkan ialah tidak mudah putus asa, dan berjiwa besar.
Sebut saja namanya ibu Ida ia begitu ayu dan anggun, serta menjadi kebanggaan bagi anak-anak dan bagi suami.
Meskipun mereka pasangan muda, hubungan keluarga mereka cukup di katakan sangat dewasa dan harmonis.
Ibu Ida jarang marah dan tidak pernah mengomel, bahkan ketika marah bisa di katakan sangat elegan dan berkelas.
Tidak terlalu banyak kata tapi kalau sudah terlalu marah, sedikit kata yang ia keluarkan namun sangat menusuk.
Tipikal wanita yang seperti ini yang mungkin kita cari dari Sabang sampai Marauke, atau putar lagi dari Kupang sampai Pulau Rote bakalan jarang kita temui, karena sudah dikategorikan langkah dan hampir punah.
Apabila ada kekilafan yang sempat ia lakukan dalam kesehariannya, ibu Ida tak pernah menyangkal disaat suaminya menegur dan menasihatinya. Jika sempat berbicara "maaf pa, tadi mama kecapean jadi konsentrasinya terbagi," pungkas ibu Ida.
Tak pernah mengeluh banyak kepada suaminya, palengan hanya mengeluh pinggulnya yang nyeri dan kakinya yang pegal akibat terlalu banyak pasien,
dan jika suaminya tidak sibuk, ibu Ida meminta tolong suaminya membalurinya dengan Nona Mas atau balsem Geliga.
Meskipun dalam keseharian penuh berkutat dirumah sakit, ibu Ida tak pernah melalaikan tugas dan kewajibannya sebagai seorang ibu rumah tangga.
Danga-Marapokot tidak menjadi jarak yang jauh buat dia. Segala tugas di rumahnya sangat gesit ia kerjakan. Honda Vario menjadi teman karibnya setiap hari saat bekerja dan pulang ke rumah.
Waktu terus berlalu begitu cepat laju usia semakin dipucuk senja, keriput kulit digoreng mentari, keropos tulang di gilas roda waktu.
Namun, semangat kerja keras ibu Ida masih sama sewaktu ia masih muda, dan sekarang usianya yang sudah menginjak 60 tahun tapi ibu Ida masih gesit bekerja dan mencukupi kebutuhan minimal untuk dia dan suaminya.
Bahkan ibu Ida menasihati anak-anaknya;
"Perempuan harus bekerja dan minimal bisa naik motor"
"Dengan bisa naik motor, maka kamu tidak perlu menunggu orang lain jika kamu ada perlu. Jika kamu bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri maka kamu tidak harus bergantung pada suamimu. Ya kalau suamimu memanjakanmu dengan materi. Kalau tidak? Mau minta siapa?
Kata ibu Ida sekali lagi;
"Coba kamu bayangkan, suatu saat misalnya kamu menginginkan sebuah tas yang harganya lumayan dan menyampaikan pada suamimu. Suamimu pasti menjawab.
"Tas lagi, tas lagi. Kemarin sepatu, baju, lipstik. Kebutuhan wanita tak ada habis-habisnya ya," sakit hati tidak?
Segala nasihat ibu Ida kepada anak-anaknya, selalu dituruti oleh anaknya.
Berkat nasihatnya anaknya yang sulung, hidup sangat bahagia bersama keluarga dan suaminya. "Pesan terakhir yang tak pernah dilupakan anak-anaknya adalah "Jika ada anak gadis, latihlah mereka bersepeda sejak kecil kelak sudah dewasa mereka bisa naik sepeda motor".
Penulis Cris Jata alumni STKIP-PI Makassar. Memiliki hobi traveling, penikmat kopi dan pecinta sajak.

Komentar
Posting Komentar
Matapenakreatif.blogspot.com