![]() |
| Doc pribadi Hendra Wuazz bersama siswa SMPN Satap Tangkul |
***Oleh Cris Jata***
"Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, upaya perbaikan apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberi sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional dan berkualitas"
Bersamaan dengan itu bangsa Indonesia sedang diperhadapkan pada fenomena bumi yang sangat ekstrim dan memprihatinkan. Dimana kita semua ditakutkan oleh virus yang bernama covid-19 itu.
Segala pergerakan aktivitas kita semua melemah dan diberhentikan. Suka tidak suka, itu sebuah hal urgens demi memutuskan mata rantai penyebaran virus tersebut.
Semua dilakukan melalui media "darring" (online) terkhusus diinstansi pendidikan. Siswa dan guru tidak secara langsung ke sekolah (bukan berati libur), tapi semua dilakukan dari rumah saja.
Metode yang digunakan pun haruslah sesuai dengan materi pembelajaran serta kondisi peserta didik pada saat pendemi ini. Jangan sampai metode dan materinya membingungkan dan membosankan para siswa.
Hendra Wuazz, seorang guru muda yg saat ini mengajar disalah satu SMPN Satap Tangkul, kabupaten Manggarai Timur, kecamatan Pocoranaka. Beliau seorang guru IPS. Mengaku dirinya tidak pernah gentar dan mundur dengan situasi saat ini.
Semangat juang demi mencerdaskan anak bangsa, tak pernah surut. Berbagai metode ia terapkan setiap kali ia melakukan kunjungan ke rumah-rumah siswa. Dulunya di sekolah ia sering memakai metode STAD, atau Demonstrasi, kini ia lebih ke ceramah atau pidato, lalu memberikan pertanyaan apresiasi kepada siswa, untuk melihat sejauh mana pemahaman siswa. Setelah itu, siswa mencatat materi setiap bab dan tema yang telah dijelaskan.
"Sebenarnya kita ini melanggar himbauan pemerintah. Bahwasannya, harus dirumah, dan tak boleh ada perkumpulan. Jujur, jika saya tidak mengunjungi anak didik saya, mereka akan ketinggalan banyak materi. Lantas, mau pake darring(online), jaringan di daerah saya tidak efesien, belum lagi siswa yang memiliki android mungkin hanya 30%," ungkap Hendra Wuazz, guru IPS itu.
"Apalagi dari sekolah juga melegalkan bahwa guru boleh melakukan kunjungan, dan memberi tugas kepada siswa. Akhirnya saya sedikit legah. Meski saya harus melakukan perjalanan sekitar satu jam dari kampung saya, menuju rumah-rumah siswa, yang kebetulan tidak begitu jauh dari kompleks sekolah," tutup guru IPS itu.
"Keteladanan seorang guru, akan menjadi pengajaran yang sangat baik bagi para siswa disekolah. Sebab, guru adalah pelita dalam kegelapan"

Komentar
Posting Komentar
Matapenakreatif.blogspot.com