Awal berjumpa
saling adu pandang, lalu tersenyum
lama memandang, akhirnya kasi salam
tatkala rasa cinta datang menggugat
ada sengketa hati dan perasaan
siapa yang menjadi sangsi
hadirnya dirimu tanpa permisi
ataukah diriku yang mencintaimu tanpa basa-basi
lantas kau memilih pergi
dan aku, kau kirimi amnesia yang tak bertepi
Kejam
Dunia semakin mengancam
tua muda saling menerkam
miskin kaya baku hantam
timbul amarah penuh dendam
Di televisi ribut soal pembunuhan
kami disini ribut menyoalkan tanaman
hama datang mencekam
tak pandang laknat atau alim
Teman semakin pelit
keluarga hanya memanfaat
anak-anak hanya bikin bangkrut
orang tua dahi mengkerut
Lalu, bagaimana dengan perut?
apakah hanya menunggu kentut
ataukah datang mengesim dan berlutut
pada tuan dan nyonya kaum berduit
Suara anak pinggiran
Pada pagi yang segar
ada semangat yang bugar
siap menyambut fajar
dengan harapan yang masih hambar
Kasih amunisi
dengan makanan bergizi
agar tubuh terisi
otak penuh konsentrasi
Meski tidak makan nasi
jangan malu apalagi gengsi
liat seperti politisi
meski banyak korupsi
buat diri seolah baik hati
Tamu Undangan
dulu, kau dan aku adalah kita
sekarang semua menjelma petaka
dahulu jalan bergandengan
makan minum bersuapan
dulu, belanja barengan
setiap sore pesan gorengan
endingnya bikin hati ilang tujuan
suda lama jadian
orang lain yang bawa ke pelaminan
Penulis adalah alumni STKIP-PI Makassar, sekarang tinggal di kampung, suka menulis puisi, suka senja, dan sepi.

Komentar
Posting Komentar
Matapenakreatif.blogspot.com