Untuk apa kita saling kenal dan pada akhirnya tidak saling suka. Aku akui gadis itu memang ayu apalagi sikapnya yang ramah membuat dirinya seakan berbeda dengan gadis pada umumnya. Pagi itu tidak seperti biasanya. Keberangkatan Ris ke kampus penuh dengan situasi hati yang penuh dengan kegalauan. Raganya saja yang hadir untuk mengisi kolom absen, tapi jiwanya masih menjadi milik gadis itu. Riuhnya ruang kelas membuat dia semakin tidak mood berada dalam ruangan, apalagi mendengarkan teori ilmiah dari dosen. Ris pun memilih menyelinap di kantin samping kampus.
Bulan Januari kemarin, ia bertemu dengan seorang gadis.
Pada waktu senja kala itu, Ris bertemu dengan Olhyn di sebuah rumah milik saudaranya Olhyn, yang adalah sahabat baiknya. Rasa terpikat itu ada ketika sorot mata Ris tertuju pada gadis itu. Tangan mereka pun, saling berjabatan sebagai nuansa perkenalan. Karena senja mulai meranum di ujung jingga dan sebentar lagi malam menghampiri ke penghujung kelam, Ris pun segera berpamitan.
"Ris terbang begitu jauh membayangkan wajah gadis itu. Melintasi batas nafas meluap dalam riang, seolah sayap mata berkedip tak henti tiap hari. Wajahnya kini datang kuasai hati menggoda dalam sukma.
Malam kian memeluk larut, dua bola mata enggan terpejam. Ada hati yang masih terlampau penasaran. Diam-diam Ris mengintip di baik beranda maya akun facebook milik gadis itu. Ia pun menemukannya. Mengiriminya permintaan pertemanan malam itu. Menggendong harapan penuh semoga, dengan singkat mengkonfirnya. Agar lebih mudah dan cepat tiba di titik jumpa."
Dan pada akhirnya mereka pun saling kenal. Semakin hari, mereka semakin terbuka dalam memberi kabar dan aktivitas. Menanyakan sudah makan atau belum, menjadi rutinitas. Kini nomor Wa milik gadis itu pun sudah ia miliki.
Suatu ketika gadis itu membuat history wa, foto dengan tulisan menarik. Bunyinya seperti ini:
"Jika kesendirian ini adalah bagian dari sebuah kebahagiaan, aku akan terus memilih untuk terus berkelana seorang diri di atas semesta ini"
Ini kesempatan buat aku, untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini aku pendam. Kalau bukan sekarang kapan lagi perasaan ini bisa terungkap. Ucap Ris membatin. Memang sejak awal bertemu, Ris sudah menyimpan rasa suka kepada Olhyn. Namun karena ragu dan malu, akhirnya rasa itu di endap begitu saja. Sesekali ia memejamkan matanya, dan menghela nafas panjang. Secangkir kopi hitam di seruputinya berkali-kali dan sebatang rokok surya, menamba ngepul seisi kamar malam itu. Dengan penuh keraguan dan rasa kaku yang menggelantung di ujung nyawa, akhirnya Ris berani mengomentari history Wa Olhyn dan mengetik dengan jari gemetaran di atas papan keyboard:
"Ijinkan aku berkelana bersamamu di atas semesta ini"
Semakin panik Ris kala itu, keraguan membanjir tubuhnya. Di teguknya lagi kopi hingga setengah cangkir dalam waktu yang singkat. Rasanya ia ingin menghapus kembali pesan yang sudah ia kirimkan itu. Di bacanya berulang-ulang kali pesan itu, kesana kemari, duduk dan berdiri membuka pesan itu.
Lima belas menit berlalu, setelah pesannya sudah tercentang biru androidnya pun belum berbunyi. Malam itu semakin menggigil membuat hati Ris semakin kalut. Dari tadi tidak tenang seakan membuat ruang kamar tambah kacau. Di bantingnya salah satu buku novel yang kebetulan ada di dekatnya."Sial, pasti Olhyn membenci aku. Dan berasumsi aku adalah laki-laki yang paling rendah. Bagaimana tidak, saudaranya adalah sahabatku. Tapi aku nekat mengungkapkan perasaan itu, gerutu Ris membatin"
Ia masih duduk ragu, menunggu balasan gadis itu. Diam membisu dalam kehening malam itu. Sembari menyeruputi kopinya yang masih tersisa dan menghembus pelan asap rokok yang ia isap dengan mata nanar memandang keatas langit-langit kamar. Hingga sampai saat ini Ris, masih menyimpan ragu perihal pesan tersebut belum di beri balasan. Apapun itu yang ia balas, aku tetap menghargainya. "Memang, niatku ingin bercengkrama diantara impian dan berkelana dalam pelukan harapan dengan berbagai dalih di kolong langit ini bersamamu, tapi semua kembali pada dirimu Olhyn, ungkap Ris dalam hati. Malam itu, Ris biarkan tubuhnya di guyur derasnya keraguan. Hingga mata terpejam tanpa sadar, tersadar mentari hangatkan tubuh di pagi hari bersama embun manjakan pernafasan yang menguap di pergelangan fajar. Olhyn pun, masih belum membalasnya.
Daun tak pernah membenci ranting yang menggugurkannya di musim semi. Dan...
Mungkin sejatinya seorang pecinta kopi, meskipun pahit tetapi ia tak pernah berhenti untuk menikmatinya.
***

Komentar
Posting Komentar
Matapenakreatif.blogspot.com